Sunday, December 30, 2012

Salib Kehidupan


Seorang muda sedang mempunyai beban hidup yang berat. Hidupnya terasa gelap. Ia berlutut dan berdoa, “Ya Tuhan, hidupku terasa berat. Aku memanggul salib yang begitu berat.”

Tuhan menjawab, “Anak-Ku, jika kamu tidak kuat menanggung salibmu, taruhlah salibmu di dalam ruangan ini. Bukalah pintu ruangan lain dan ambillah salib yang kamu inginkan.”

Orang muda ini merasa mendapatkan keringanan. Dan ia melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Ia masuk ke sebuah ruangan dan melihat banyak salib ada di situ.

Ada sebuah salib yang besar pada bagian atasnya dan bagian bawahnya tak tampak. Dari kejauhan ia mengamati sebuah salib yang tipis, yang bersandar pada tembok. “Aku menyukai salib ini, Tuhan,” ia berbisik pada dirinya sendiri.

Tuhan menjawab, “ Anak-Ku, itu adalah salib yang baru saja kau panggul.”

Bila masalah-masalah hidup melingkupimu, pandanglah sekelilingmu, bagaimana orang lain juga sedang bergulat dengan kesulitan-kesulitan hidup. Kirannya kamu akan memandang dirimu jauh lebih beruntung daripada yang kamu bayangkan sebelumnya. 

Friday, December 23, 2011

Melihat Wajah Allah

Diakhir tahun 1980'an Ekuador dilanda krisis ekonomi berat. Lalu, dalam waktu bersamaan, terserang epidemi wabah kolera massal. Seakan masih kurang, bencana alam silih-berganti memporakporandakan desa-desa maupun kota-kota di negara itu. PBB dan organisasi dunia lainnya merespon dengan membawakan persediaan jagung, produk-produk kedelai, susu, buah-buahan, tortilla (makanan dari tepung jagung), beras dan kacang-kacangan.


Seorang fotografer berita terkenal mengambil posisi di suatu jalan utama dimana orang-orang sakit, yang kelaparan, yang sudah letih lesu saling berbaris menunggu pembagian makanan. Ia sudah terlatih untuk mengawasi hal-hal kecil dan situasi umumnya yang sedang berkembang.

Ia tertarik pada seorang gadis -- kurus kering dan dekil, berusia sekitar 9 atau 10 tahun. Diamatinya, selagi gadis ini dengan sabar mengantri, matanya selalu tertuju pada tiga anak lain lagi yang saling erat berjongkok di bawah sebuah pohon besar, memayungi diri dan menghindar dari terik panas matahari. Dua bocah laki-laki, berumur 5 dan 7, saling menggandeng seorang gadis kecil sekitar 3 tahun.

 

Karena perhatiannya teralihkan, gadis itu tidak melihat bahwa pekerja-pekerja sosial itu sedang kehabisan persediaan makanan. Jantung sang fotografer itu berdetak keras. Kameranya juga sudah siap.


Setelah berjam-jam terjemur di bawah matahari, gadis kecil itu akhirnya mendapatkan giliran dilayani. Yang ia terima cuma sebuah pisang. Tetapi, reaksinya begitu memukau dan seakan melumpuhkan sang fotografer tersebut.

 

Pertama, wajahnya menyala, bersinar dalam sebuah senyum begitu manis. Ia menerima pisang itu dan membungkuk pada pekerja sosialnya. Lalu cepat-cepat ia berlari menuju ketiga anak kecil di bawah pohon tadi. Dengan amat hati-hati ia mengupas kulitnya, membaginya rata dalam 3 potong dan dengan hati-hati sekali, ditaruhnya masing-masing ke dalam tangan tiap anak. Bersama-sama mereka menundukkan kepala dan berdoa mengucap syukur. Lalu, perlahan-lahan mereka memakan potongan pisang, benar-benar menikmati setiap gigitannya, sedangkan gadis tertua itu mengisap kulit pisangnya.


Fotografer itu terdiam seribu bahasa. Tak tertahan lagi, ia mulai menangis tersedu-sedu, lupa sama sekali akan kameranya dan akan tujuan utama ia hadir disana. Belakangan, setelah sadar kembali, ia bertutur bahwa ketika sedang mengamati gadis itu, ia melihat wajah Allah bersinar. Ia sempat mengintip secuil kecil Kerajaan Allah dalam wajah dan tindakan-tindakan seorang gadis miskin jalanan yang begitu kaya dalam kemurahan hati, cinta kasih dan  kepedulian. 




Wednesday, December 21, 2011

Wonderful Mother



God made a wonderful mother,
A mother whose love never grows old;
He made her smile of the sunshine,
And He moulded her heart of pure gold;
In her eyes He placed bright shining stars,
In her cheeks fair roses you see;
He gave that dear mother to me
by Pat O'Reilly


Sunday, December 18, 2011

Early Morning in Tahuna - Sangihe Island







Kisah Cangkir yang Cantik

 

Sepasang kakek-nenek memasuki sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah ulang tahun untuk cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju pada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir yang cantik itu," kata si nenek pada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek. 

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir tersebut berbicara, "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada  seorang pengrajin dengan tangan  kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing.

Stop ! Stop ! Aku berteriak. Tetapi orang itu berkata, 'Belum !' Lalu ia mulai menyodok dan meninjuku  berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini  masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. “Panas  ! Panas !” Teriakku dengan keras. “Stop ! Cukup !” teriakku lagi.Tapi orang ini berkata, “Belum !”

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. “Stop ! Stop !”  Aku berteriak. Orang itu  berkata, 'Belum !' Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan  aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya. “Tolong ! Hentikan penyiksaan ini !” Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya.Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia  terus membakarku.

Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin  seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat  kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala  kulihat diriku.

Renungan :

Seperti inilah Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita, keadaan tidak selalu menyenangkan. Seringkali terasa sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi 'cantik' dan memancarkan Kemuliaan-Nya.

Bila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Tuhan sedang membentuk anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai. Anda  akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk anda.


Tuesday, September 20, 2011

Kami Baik-baik Saja

Jhon ikut merasa sedih untuk putranya, Brian, dan tim basket kelas lima-nya. Di pertandingan kompetisi bola basket sekolah pada musim gugur yang lalu tim basket mereka mempunyai rekor yang mematahkan semangat, 0-6, dan selisih angkanya juga kurang baik. Mereka biasanya kalah dengan selisih 30 atau 40 poin. 

Tidak perlu suatu keahlian khusus untuk melihat masalahnya. Dibanding dengan tim lain pada kompetisi sekolah itu, tim basket Brian terdiri dari anak-anak berbadan lebih kecil, bergerak lebih lambat, dan kurang pengalaman.  Jhon kuatir putranya akan menjadi patah semangat, tapi sepertinya Brian dan teman-teman setimnya menyukai setiap latihan dan tetap bersenang-senang setelah setiap pertandingan. 

Setelah usai pertandingan yang, lagi-lagi, dimenangkan oleh tim lawan, Jhon bertanya pada putranya, "Brian, mengapa kalian terlihat selalu bergembira, padahal tim kalian selalu kalah?" 

Jawaban Brian membuat Jhon tercekat, "Oh, Papa, kami memang selalu kalah dalam setiap pertandingan, tetapi kami berhasil mencapai target kami, yaitu mendapatkan 12 poin dan menjaga agar selisih angka kami dari tim lawan dbawah 50 poin. Kami sadar kok kalau tim kami semuanya anak-anak kelas lima dan tim lain kebanyakan kelas enam. Jadi, menurutku, kami baik-baik saja!"

Siapa bilang kita harus hidup dengan sistem pengukuran orang lain? Tak bisakah kita menetapkan standar kita sendiri? Tak bisakah kita memutuskan untuk melihat diri kita sebagai sosok yang sukses, bukan yang gagal? 

Kita bisa membunuh kemampuan untuk belajar dan berkembang jika selalu membandingkan diri kita dengan orang lain dan merasa bahwa kita tidak pernah cukup baik. Yang membuat proses pembelajaran dan perkembangan tumbuh subur adalah keyakinan bahwa kita tidak harus selalu menjadi yang terbaik, tetapi cukup kita berusaha sebaik-baiknya. Brian dan tim basketnya telah mengajarkan hal itu. 


Little Girl's Compassion

Hari minggu ini sangat mengesalkan. Aku menggerutu karena seharian ini aku merasa banyak orang yang tidak bersahabat denganku dan banyak hal yang telah kurencanakan tidak berjalan dengan baik.  Kedua putriku, Emmy dan Alice sedang menarik-narik lengan kemejaku ketika kami berjalan menuju toko mainan. Mereka merengek minta 25 sen untuk menaiki kuda mekanis di depan toko. Aku menyerah dan memberi mereka  masing-masing 25 sen. 

Kuda mekanis itu merupakan mainan yang populer bagi anak-anak, dan karena banyak yang ingin menaikinya, mereka harus sabar mengantre.  Aku melihat Alice, yang saat itu berusia 5 tahun, harus menunggu 10 menit sementara saudarinya, Emmy, dan anak-anak yang lain menaiki kuda makanis itu. Akhirnya tibalah giliran Alice, tetapi bukannya menaiki kuda itu, ia malah menghampiri seorang anak laki-laki kecil yang sedang berdiri menonton permainan itu. Dengan kepekaannya yang polos ia mengetahui bahwa anak laki-laki itu tidak mempunyai uang. Maka, ia memberikan koinnya kepada anak kepada anak itu dan menyuruhnya naik. 

Aku tahu bahwa Alice sangat ingin sekali meniki kuda mekanis itu dan ia sudah menunggu dengan sabar untuk menaiki kudatungganyan yang sangat berarti baginya itu. Rasa kasih sayang dan ketulusan yang ditunjukkanya telah mengubah seluruh hatiku. "Bagaimana aku bisa begitu egois dan penggerutu," pikirku, "jika seorang anak kecil baru saja menunjukkan kepadaku bagaimana dunia itu seharusnya?'

Alice tidak pernah menceritakan hal itu kepada orang lain dan ia juga tidak pernah tahu bahwa aku melihatnya. Dia tidak pernah tahu betapa berharganya anugerah yang telah diberikannya kepadaku saat aku melihatnya berdiri dan tersenyum sayang ketika anak laki-laki itu menaiki kudanya.