Showing posts with label Kisah Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspirasi. Show all posts

Wednesday, May 1, 2013

Kisah di balik lagu "It Is Well With My Soul"

Salah satu lagu inspirational yang membuatku meneteskan airmata ketika pertama kali mendengarnya. Syair-nya begitu menyentuh, khususnya kalimat "It is well with my soul". Karena penasaran, aku memanfaatkan google untuk mencari tahu siapa pencipta lagu tersebut dan ternyata ada kisah luar biasa di balik terciptanya lagu yang indah dan penuh semangat iman ini. Lirik lagu "It is well with my soul" ditulis oleh Horatio Spafford sementara musiknya dibuat oleh sahabatnya, Philips Paul Bliss. 

Horatio G. Spafford lahir pada 20 Oktober 1828 di Lansungburgh, New York. Dia adalah seorang pengacara sekaligus pengusaha sukses di Chicago.  Horatio mempunyai seorang istri, Anna Spafford, dan 5 orang anak (1 orang laki-laki dan 4 orang perempuan). Pada tahun 1860-an keluarga Spafford merupakan salah satu keluarga yang terpandang di Chicago. Horatio mendapatkan keuntungan besar dari investasinya dalam reasl estate di sepanjangan tepi danau Michigan. Walaupun hidupnya serba serba berkelimpahan keluarga Spafford sangat aktif dalam kegiatan gereja sebagai seorang jemaat setia Presbysterian. 

Namun, kehidupan tidak selamanya membahagiakan bagi keluarga Spafford. Tragedi pertama terjadi pada tahun 1870 ketika putra satu-satunya, yang waktu itu berusia 4 tahun, meninggal akibat demam berdarah. Ketika belum sepenuhny apulih dari kesedihan akibat kehilangan putra tunggalnya, tragedi kembali melanda keluarga Spafford. Tahun 1871 terjadi sebuah kebakaran besar di Chicago (Great Chicago Fire) yang menyapu habis semua aset-aset real estatenya sehingga perusahaannya pun akhirnya bangkrut. Tidak berdiam diri dan jatuh dalam depresi, Horatio kembali usahanya sambil membantu sesama warga Chicago lainnya yang kehilangan tempat tinggal. 

Ketika keadaan agak mulai membaik, Horatio berencana membawa keluarganya berlibur ke Eropa untuk menenangkan diri. Pada tahun 1873, sahababatnya sekaligus seorang penginjil besar Amerika bernama D.L. Moddy berencana untuk mengadakan pertemuan penginjilan di Inggris sehingga Horatio membawa istri serta keempat anak perempuannya untuk mengikuti pertemuan tersebut. Keluarga Spafford bersiap untuk berlayar ke Inggris menaiki kapal uap Perancis bernama Vile du Havre dari pelabuhan New York dengan melintasi samudera Atlantik. Akan tetapi, sesaat sebelum kapal meninggalkan pelabuhan, Horatio terpaksa harus menunda keberangkatannya karena ada urusan bisnis yang sangat penting dan tidak bisa ditunda. Istri dan keempat anaknya tetap berangkat dan Horatio berjanji akan segera menyusul setelah urusan bisnisnya selesai. 

Pada malam tanggal 22 November 1873, tragedi kembali menerpa keluarga Spafford, kapal Vile du Havre yang mereka tumpangi bertabrakan dengan kapal besi Inggris,The Loch Earn. Hanya dalam tempo 12 menit Vile du Havre tenggelam dan menewaskan 226 penumpang, termasuk keempat putri Horatio : Annie, Maggie, Bessie dan Taneta. Anna Spafford termasuk salah satu dari 47 orang yang selamat. 

Anna yang selamat dari kecelakaan kapal tersebut mengisahkan saat-saat terakhir ketika tragedi itu merengut nyawa keempat putrinya : "Aku merasa seperti tersedot dengan keras ke bawah. Bayi taneta terlepas dari tanganku karena benturan dengan beberapa puing kapal. Benturan itu begitu keras sehingga lenganku memar parah. Aku mencoba menggapai untuk menangkap bayiku dan berhasil menangkap gaunnya, namun sesaat kemudian ombak menghantam dan merobek baju yang kugenggam dan menghempaskan bayiku dari tanganku selamanya."  Kedua putrinya yang lain, Maggie dan Annie ditolong oleh seorang pemmuda, penumpang kapal yang berhasil mengapung dengan sepotong kayu. Ia berenang mendekati kedua gadis itu dan menyuruh mereka menggenggam kedua sisi bajunya sambil mencoba mencari papan yang cukup besar untuk mereka bertiga. Setelah berjuang sekitar 30-40 menit di laut, mereka berhasil mendapatkan papan yang cukup besar dan pemuda itu berusaha membantu kedua gadis Spafford untuk naik ke papan. Tetapi ia melihat tangan mereka yang menggenggam bajunya mulai melemah dan mata mereka tertutup. Tubuh kedua gadis yang sudah tidak bernyawa lagi itu perlahan mengambang menjauh dari tubuh si pemuda yang juga lumpuh akibat kecelakaan tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada putri Stafford yang bernama Bessie. 

Dengan tubuh penuh memar dan luka, Anna Spafford berhasil diselamatkan, namun semua rasa sakit yang dideritanya tidak sepanding dengan kepedihan hati akibat kehilangan keempat putrinya. Pastor Nathaniel Weiss, salah seorang penumpang yang juga selamat dari kecelakaan kapal tersebut mendengar Anna berkata, "Tuhan memberiku empat anak perempuan. Sekarang mereka diambil dariku. Suatu hari nanti aku akan mengerti mengapa ..." Anna benar-benar hancur, namun dalam kesedihan dan keputusasaannya, ia mendengar suara lembut berbicara kepadanya, "Engkau diselamatkan untuk suatu tujuan." Anna teringat seorang teman pernah berkata, "Sangat mudah untuk bersyukur ketika engkau memiliki segala sesuatu, tetapi melupakan Tuhan dan hanya mengingatNya saat berada dalam masalah."

Sembilan hari setelah diselamatkan dan tiba di Cardiff, Wales, Anna mengirimkan telegram kepada suaminya. Telegram itu berisi kalimat : "Saved alone. What shall I do?" (aku sendiri yang selamat, apa yang harus kulakukan?)  Horatio bergegas menuju Inggris untuk menemani Anna dan berada di sisinya dalam masa-masa berat tersebut. 

Dalam perjalanan menuju Inggris, kapten kapal menunjukkan lokasi dimana kapal Vile du Havre tenggelam yang menewaskan empat putri Horatio. Malam itu Horatio tidak dapat tidur. Berjam-jam lamanya ia merenungkan dan mengingat semua tragedi yang terjadi pada keluarganya dan keempat putrinya yang meninggal di tengah-tengah samudera Atlantik itu. Dalam keadaan hati yang hancur, Horatio menulis pada secarik kertas, "It is well, the will of God be done." (Hal ini baik, kehendak Tuhan, terjadilah). Dia atas kapal inilah Horatio kemudian menulis hymne "It is well with my soul" yang jika diterjemahkan : Jiwaku sanggup menerima (cobaan ini) atau dalam terjemahan bebas : Jiwaku baik-baik saja (walau didera penderitaan). Ketika bertemu kembali dengan istrinya, ia berkata, "Kita tidak kehilangan anak-anak kita. Kita hanya berpisah dengan mereka untuk sementara."

Horatio membawa Anna kembali ke Chicago untuk memulai kembali kehidupan mereka. Tuhan mengaruniai mereka dengan tiga orang anak. Putra mereka yang lahir pada tahun 1876 diberi nama Horatio untuk mengenang putra mereka yang telah meninggal.  Pada tahun 1878 Horatio dan Anna dikaruniai seorang putri yang diberi nama Bertha dan dua tahun kemudian, 1880, lahirlah Grace. Tragisnya, ketika Horatio kecil berusia 4 tahun, ia juga meninggal karena penyakit demam seperti kakak lelakinya. Belum hilang kepedihan akibat wafatnya Horatio kecil, jemaat gereja mengucilkan mereka dengan alasan, "Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan keluarga Spafford sehingga banyak tragedi menimpa mereka." 

Karena tidak lagi diterima jemaat di gerejanya, pada bulan September 1881, Horatio membawa keluarganya menuju Yerusalem untuk menetap di sana. Bersama beberapa kawan yang juga ikut pindah bersamanya, 
Horatio memulai sebuah kelompok pelayanan yang kemudian dikenal sebagai "American Colony." Mereka melayani orang-orang yang kekurangan, membantu orang miskin, merawat orang sakit dan menampung anak-anak tunawisma. Tujuan mereka hanyalah untuk menunjukkan kasih Yesus kepada sesama yang menderita. Novelis Swedia, Selma Ottiliana Lovisa Lagerlof menulis tentang pelayanan yang dilakukan kelompok ini dalam novelnya berjudul "Yerusalem." Novel tersebut berhasil memenangkan hadiah Nobel. 

Horation Spaffor meninggal karena malaria pada 16 Oktober 1888 di Yerusalem. Anna Spafford terus bekerja di daerah sekitar Yerusalem sampai kematiannya pada tahun 1923. 


Putri Horatio, Bertha Spafford Vester, menulis kisah ini dalam bukunya "Our Yerusalem" : "Di Chicago, ayah mencari penjelasan tentang hidupnya. Hingga saat ini, semuanya mengalir dengan lembut seperti sungai. Kedamaian rohani dan keamanan telah menopang awal hidupnya, kehidupan keluarganya, tempat tinggalnya ... orang di sekelilingnya bertanya-tanya, 'kesalahan apa yang menyebabkan terjadinya tragedi beruntun pada Horatio dan Anna Spafford?' ... tapi ayah yakin bahwa Allah baik dan ia akan melihat anak-anaknya lagi di surga nanti. Hal ini menenangkan hatinya. Bagi ayah, keadaan itu seperti melewati 'lembah bayang-bayang maut', tapi imannya bangkit dan kuat. Di laut lepas, dekat tempat dimana anak-anaknya tewas, ayah menulis hymne yang menenangkan banyak orang."  

Ini adalah sebuah lagu yang penuh kekuatan, kedamaian dan pengharapan.

When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll,
Whatever my lot, 
Thou has taught me to say,
It is well, it is well, 
with my soul.

It is well, with my soul.
It is well, with my soul.
It is well, it is well,
with my soul.

Though Satan should buffet, though trials should come,
Let this best assurance control
That Christ has regarded 
my helpless estate,
And hath shed His own blood 
for my soul.

My sin, oh, the bliss of this glorious thought!
My sin, not in part but the whole
Is nailed to the cross, and I bear it no more,
Praise the Lord, praise the Lord, oh my soul.

And Lord haste the day when my faith shall be sight,
The clouds be rolled back as a scroll,
The trump shall resound, and the Lord shall descend,
Even so, it is well with my soul.

It is well, with my soul. It is well, with my soul.
It is well, it is well, with my soul.



Sunguh sebuah kisah penuh inspirasi yang meneguhkan iman. Tragedi yang datang bertubi-tubi tidak melemahkan iman, tetapi semakin kuat berpegang pada Tuhan, berserah dan percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik, apapun itu, pastilah baik bagi jiwaku. 


(diambil dari berbagai sumber)



Monday, April 22, 2013

Hati Yang Damai

Dewa Vishnu sudah bosan mendengarkan permohonan salah seorang penyembahnya, hingga suatu ketika ia menampakkan diri di hadapannya dan berkata: 'Sudah kuputuskan, aku akan memberikan tiga hal, apa pun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi.'

Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia minta  agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik.Permohonannya dikabulkan dengan segera.

Tetapi ketika teman-teman dan sanak saudaranya berkumpul menghadiri pemakaman isterinya, dan mulai mengenangkan kembali semua sifat baiknya, penyembah ini sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa dulu ia buta terhadap segala kebaikan isterinya. Apakah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik dia?

Maka ia memohon kepada dewa, agar menghidupkan isterinya kembali. Kini permohonannya tinggal satu lagi. Ia bermaksud tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, karena ia sudah tidak akan sempat memperbaikinya lagi. Ia bertanya kemana-mana. Beberapa kawannya menasehatinya, agar ia minta diluputkan dari kematian. Tetapi apa gunanya tetap hidup, kata kawannya yang lain, kalau badannya tidak sehat? Dan untuk apa sehat, kalau tidak punya uang? Dan apa gunanya uang kalau tidak punya sahabat?

Tahun demi tahun telah lewat dan ia belum juga dapat memutuskan apa yang harus dimintanya: hidup, kesehatan, kekayaan, kekuasaan atau cinta. Akhirnya ia menyerah dan berkata kepada dewa: 'Berkenanlah kiranya Dewa memberi nasehat, apa yang sepantasnya saya minta?'

Melihat kebingungan orang itu, Vishnu tertawa dan berkata:

'Mintalah hati yang damai, entah apa pun yang terjadi dalam hidupmu.'


(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ)



Saturday, April 13, 2013

Yesus menonton pertandingan sepakbola


Yesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajakNya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik.


Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Yesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan Jesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Yesus dan bertanya: 'Saudara berteriak untuk pihak yang mana?'

'Saya?' jawab Jesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. 'Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini.'

Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh Yesus: 'Ateis!'

Sewaktu pulang, Yesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. 'Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan,' kata kami. 'Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain.'

Yesus mengangguk setuju. 'Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya,' katanya. 'Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat.'

'Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kataMu,' kata salah seorang di antara kami dengan was-was. 'Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu.' 'Ya --dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama,' kata Yesus sambil tersenyum kecewa.


(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)


Friday, April 12, 2013

Doa bisa berbahaya

Inilah cerita yang sangat disukai oleh Guru Sufi Sa'di dari Shiraz: 

Salah seorang sahabatku senang sekali karena isterinya mengandung. Ia ingin sekali mendapatkan anak laki-laki. Tak henti-hentinya ia berdoa kepada Tuhan dan menjanjikan berbagai kaul dengan ujud itu. 



Maka terjadilah, bahwa isterinya melahirkan seorang anak laki-laki. Sahabatku bergembira sekali dan mengundang seluruh penduduk kampung untuk merayakan pesta syukur. Bertahun-tahun kemudian, sekembaliku dari Mekah, aku melewati kampung sahabatku itu. Aku diberitahu bahwa ia dipenjara. 

'Mengapa? Apa kesalahannya?' tanyaku. 

Tetangganya berkata: 'Anaknya mabuk, membunuh orang, kemudian melarikan diri. Maka ayahnya lalu ditangkap dan dipenjarakan.' 

Meminta kepada Tuhan dengan tekun apa yang kita inginkan merupakan perbuatan yang patut dipuji. Tetapi doa seperti itu juga amat berbahaya. (Anthony De Mello SJ)

Renungan : 
Tidak semua yang kita inginkan selalu baik. Mungkin kelihatan baik saat ini tetapi kita tidak tahu resiko besar yang harus ditanggung di masa depan. Jadi ketika berdoa, mintalah segala sesuatu yang menurut Tuhan terbaik bagi kita. 






Thursday, April 11, 2013

Surga yang sepi


Pada suatu hari waktu Tuhan masuk ke dalam surga, Ia heran bahwa semua orang sudah berada di sana. Tak seorang pun dimasukkan ke dalam neraka. Ini merisaukanNya, karena bukankah Tuhan harus adil? Dan untuk apa neraka diciptakan, jika tidak dipakai?

Maka Ia berkata kepada Malaikat Gabriel:

'Panggil semua orang ke hadapan tahtaKu dan bacakan Sepuluh PerintahKu!'

Semua orang dipanggil. Malaikat Gabriel membaca perintah yang pertama. Lalu Tuhan bersabda:

'Semua yang pernah berdosa melawan perintah ini, harus segera turun ke neraka!' Sejumlah orang mengundurkan diri dan dengan sedih pergi ke neraka.

Hal yang sama terjadi pula sesudah perintah yang kedua dibaca ... begitu pula dengan yang ketiga ... keempat ... kelima ... Pada waktu itu penghuni surga sudah jauh berkurang. Sesudah perintah keenam dibaca, semua orang telah pergi ke neraka kecuali seorang pertapa yang gemuk, tua dan botak.

Tuhan melihatnya dan berkata kepada Malaikat Gabriel:

'Inikah satu-satunya yang masih tinggal di surga?'

'Ya,' sembah Malaikat Gabriel.

'Wah,' kata Tuhan, 'suasana di sini menjadi agak sepi, bukan? Suruhlah mereka semua kembali ke surga!'



Tuesday, April 9, 2013

Kami bertiga, Kamu bertiga, kasihanilan kami.


Ketika kapal seorang Uskup berlabuh untuk satu hari di sebuah pulau yang terpencil, ia bermaksud menggunakan hari itu sebaik-baiknya. Ia berjalan-jalan menyusur pantai dan menjumpai tiga orang nelayan sedang memperbaiki pukat. Dalam bahasa Inggeris pasaran mereka menerangkan, bahwa berabad-abad sebelumnya mereka telah dibaptis oleh para misionaris. 'Kami orang Kristen,' kata mereka sambil dengan bangga menunjuk dada. 

Uskup amat terkesan. Apakah mereka tahu doa Bapa Kami? Ternyata mereka belum pernah mendengarnya. Uskup terkejut sekali. Bagaimana orang-orang ini dapat menyebut diri mereka Kristen, kalau mereka tidak mengenal sesuatu yang begitu dasariah seperti doa Bapa Kami? 

'Lantas, apa yang kamu ucapkan bila berdoa?' 

'Kami memandang ke langit. Kami berdoa: 'Kami bertiga, Kamu bertiga, kasihanilah kami.' Uskup heran akan doa mereka yang primitif dan jelas bersifat bidaah ini. Maka sepanjang hari ia mengajar mereka berdoa Bapa Kami. Nelayan-nelayan itu sulit sekali menghafal, tetapi mereka berusaha sebisa-bisanya. Sebelum berangkat lagi pada pagi hari berikutnya, Uskup merasa puas. Sebab, mereka dapat mengucapkan doa Bapa Kami dengan lengkap tanpa satu kesalahan pun. 

Beberapa bulan kemudian kapal Uskup kebetulan melewati kepulauan itu lagi. Uskup mondar-mandir di geladak sambil berdoa malam. Dengan rasa senang ia mengenang, bahwa di salah satu pulau yang terpencil itu ada tiga orang yang mampu berdoa Bapa Kami dengan lengkap berkat usahanya yang penuh kesabaran. Sedang ia termenung, secara kebetulan ia, melihat seberkas cahaya di arah Timur. Cahaya itu bergerak mendekati kapal. Sambil memandang keheran-heranan, Uskup melihat tiga sosok tubuh manusia berjalan di atas air, menuju ke kapal. Kapten kapal menghentikan kapalnya dan semua pelaut berjejal-jejal di pinggir geladak untuk melihat pemandangan ajaib ini. 

Ketika mereka sudah dekat, barulah Uskup mengenali tiga sahabatnya, para nelayan dulu. 'Bapak Uskup', seru mereka, 'Kami sangat senang bertemu dengan Bapak lagi. Kami dengar kapal Bapak melewati pulau kami, maka cepat-cepat kami datang.' 

'Apa yang kamu inginkan?' tanya Uskup tercengang-cengang. 

'Bapak Uskup,' jawab mereka, 'kami sungguh-sungguh amat menyesal. Kami lupa akan doa yang bagus itu. Kami berkata: Bapa kami Yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu; datanglah kerajaanMu ... lantas kami lupa. Ajarilah kami sekali lagi seluruh doa itu!' 

Uskup merasa rendah diri: 'Sudahlah, pulang saja, saudara-saudaraku yang baik, dan setiap kali kamu berdoa, katakanlah saja: Kami bertiga, kamu bertiga, kasihanilah kami.' 

Aku kadang-kadang melihat wanita-wanita tua berdoa rosario tak habis-habisnya di gereja. Bagaimana mungkin Tuhan dimuliakan dengan suara bergumam yang tidak keruan itu? Tetapi setiap kali aku melihat mata mereka atau memandang wajah mereka menengadah, di dalam hati aku tahu, bahwa mereka lebih dekat dengan Tuhan daripada banyak orang terpelajar.



(Anthony de Mello, SJ)



Friday, April 5, 2013

Ketika Aku Seorang Kristen

Ketika aku berkata ... aku seorang kristen,
aku tidak berteriak, 
”Aku telah diselamatkan.”
Aku berbisik, 
"Aku telah terhilang, sebab itu aku memilih jalan ini.”

Ketika aku berkata ... aku seorang kristen,
aku tidak mengatakan hal ini dengan kebanggaan.
Aku mengakui bahwa aku tersandung
dan butuh seseorang untuk membimbingku.

Ketika aku berkata ... aku seorang kristen,
aku tidak mecoba menjadi kuat.
Aku mengakui bahwa aku lemah
dan berdoa untuk mendapatkan kekuatan.

Ketika aku berkata ... aku seorang kristen,
aku tidak menyombongkan kesuksesan.
Aku mengakui bahwa aku gagal
dan tidak pernah dapat membayar utangku.

Ketika aku berkata ... aku seorang kristen,
aku tidak menyatakan menjadi orang yang sempurna.
Cacat celaku sangat terlihat,
tetapi Tuhan percaya bahwa aku berharga.

Ketika aku berkata ... aku seorang kristen,
aku masih merasakan sengatan kesakitan.
Aku mempunyai tempat membagi rasa sakitku,
sebab itu aku memanggil nama-Nya.

Ketika aku berkata ... aku seorang kristen,
aku tidak ingin menghakimi.
Aku tidak punya otoritas.
Aku hanya tahu bahwa aku dikasihi. 



Thursday, April 4, 2013

Putri Sang Pembuat Mainan


Di suatu desa kecil, hiduplah seorang pembuat mainan kayu bernama yang sangat terkenal karena ketrampilannya. Dia mempunyai seorang anak perempuan kecil yang sangat disayanginya.

Pada hari ulang tahun anaknya yang kesepuluh, ia membuatkan sebuah boneka kayu yang sangat cantik untuk putrinya. Gadis kecil itu sangat menyukai bonekanya dan selalu membawa boneka itu bersamanya kemanapun dia pergi.

Pada suatu hari ketika ia sedang bermain bonekanya terjatuh dan tangannya patah.  Gadis kecil itu menangis dan berlari menuju ayahnya. Dengan bercucuran air mata ia mengeluh kepada ayahnya dan meminta sang ayah untuk memperbaiki bonekanya.

Sang ayah mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia meminta anaknya untuk meninggalkan boneka itu untuk diperbaiki dan mengambilnya kembali setelah selesai.

Dengan tidak sabar gadis kecil itu berkata, ”Tidak ayah, engkau tidak mengerti! Aku ingin tangan boneka itu diperbaiki sekarang juga. Engkau kan bisa mencari sebuah kayu lain, membentuknya jadi sama seperti tangan yang patah lalu dicat dan sambung kembali pada bonekaku. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukannya”.

Sang ayah berusaha membujuk anaknya untuk percaya kepadanya karena ia yang membuat boneka itu sehingga ia tahu cara yang terbaik untuk memperbaikinya. Ia ingin putrinya mempercayakan boneka itu padanya.

Gadis kecil itu menjadi semakin tidak sabar dan berkata kepada ayahnya, ”Ayah, aku tidak bisa menunggu, engkau lambat sekali. Biar aku lakukan dengan caraku sendiri!”

Sehabis berkata demikian, si  gadis kecil mengambil bonekanya dan berlari meninggalkan ayahnya.

Sang ayah mencoba memanggil putrinya kembali, tetapi sia-sia karena putrinya tidak mau mendengar panggilannya, dan sang ayah pun merasa sangat sedih.

Seperti juga gadis kecil tersebut, kita juga membawa segala persoalan kita kepada Tuhan dan mencoba mengaturNya untuk menyelesaikan persoalan tersebut sesuai dengan keinginan kita. Seringkali kita tidak menyadari bahwa karena Tuhan yang menciptakan kita, maka Ia yang paling mengerti cara terbaik untuk menangani persoalan tersebut. Yang perlu kita lakukan adalah menyerahkannya dengan penuh kepercayaan ke dalam Tangan Tuhan. ÿ


Wednesday, April 3, 2013

Ketika Aku Sudah Tua



Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,

ingatlah bagaimana dahulu aku dengan sabar mengajarimu.


Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang sama 
yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.

Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara 

untuk membujukmu mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tekhnologi dan hal-hal baru, 
jangan mengejekku.

Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, 
ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.

Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, 
berilah aku waktu untuk mengingat.

Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, 

asalkan kau disampingku mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.

Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu 

ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, 
sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur

Dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.





Tuesday, April 2, 2013

Lewat Jendela Kereta

Suatu hari seorang pria paruh baya dan anak lelakinya yang berusia 24 tahun melakukan perjalanan dengan kereta api. Sang pemuda begitu gembira sehingga ia minta pada ayahnya untuk duduk di dekat jendela. Sepanjang perjalanan, sang pemuda dengan riang mengomentari hal-hal yang dilihatnya.

"Ayah lihatlah, semua pohon-pohon itu sepertinya sedang berlari bersama kita," serunya dengan gembira. 

Sepasang kekasih yang duduk berdekatan dengan mereka memandang dengan iba kepada ayah dan anak mudanya tersebut.  Namun, seperti tidak peduli, sang pemuda berseru lagi dengan antusiasnya, "Ayah, awan itu sepertinya sedang mengikuti kita. Ajaib sekali!"

Pasangan kekasih itu akhirnya tidak sabar lagi dan berkata kepada sang ayah, "Kasihan sekali, mengapa Anda tidak membawa anakmu ke dokter yang terbaik di kota?"

Sang ayah, dengan tersenyum, menjawab, "Sudah saya lakukan. Sebenarnya, kami baru saja kembali dari dokter terbaik di kota. Anak saya sudah buta sejak lahir, dan baru hari ini dia bisa melihat kembali."



Friday, March 8, 2013

Ketika Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan




Ketika Aku menciptakan surga dan bumi, Aku berfirman dan semuanya jadi. Ketika aku menciptakan pria, aku membentuknya dan menghembuskan nafas kehidupan.

Tetapi engkau, perempuan, Aku menghiasi engkau setelah Aku menciptakan laki-laki karena engkau begitu lembut. Aku  membuat laki-laki tertidur sehingga aku dapat membentukmu dengan sabar dan sempurna.

Aku membentukmu dari satu tulang pilihan. Aku mengambil tulang yang memberikan perlindungan bagi kehidupan laki-laki. Aku mengambil tulang rusuk laki-laki yang melindungi dan menyangga organ-organ penting dalam tubuhnya, jantung dan paru-parunya. Sifat dasarmu seperti tulang rusuk, kuat tetapi lembut. Dukunglah laki-laki seperti tulang rusuk melindungi tubuhnya.

Kau tidak diambil dari kakinya untuk diinjak-injak, juga bukan dari kepalanya untuk menjadi tuannya. Kau diambil dari rusuknya, dekat dengan hatinya untuk dicintai dan dekat ditangannya untuk dirangkulnya. Kau akan berjalan bersamanya di sisinya, di jalan kehidupan.

Adam berjalan bersama-Ku pada hari-hari dingin dan sepi. Ia tidak dapat melihat atau menyentuh-Ku. Ia hanya dapat merasakan kehadiran-Ku. Segala hal yang ingin aku bagikan kepada Adam, Aku bentuk di dalam dirimu. Kekuatan-Ku, kesucian-Ku, kasih-Ku, perlindungan-Ku, dan dukungan-Ku. Kau begitu istimewa karena kau adalah perpanjangan tangan-Ku. Laki-laki mewakili gambaran-Ku, sedang perempuan, perasaan-Ku. Bersama-sama kalian berdua mewakili Aku.




Sunday, January 6, 2013

Mengapa Allah Mau Menjadi Manusia?

Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Dia bukanlah orang yang jahat. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Yesus dan bahwa dalam Dia, Allah menjelma menjadi manusia. 
     "Aku benar-benar minta maaf jika ini membuat mu sedih," kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja. "Tapi aku sungguh tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal bagi ku "
     Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka. “Aku tidak mau menjadi munafik," jawabnya. "Lebih baik aku tinggal di rumah. Aku akan menunggu sampai kalian pulang."
    Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia memandang ke luar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya.  Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.
  'Aku tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini,' pikir pria itu. Tapi bagaimana aku bisa menolong mereka?' Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam.
Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju. Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.
   "Mereka menganggap ku sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri, "dan aku tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka mereka dapat mempercayai ku. Kalau saja aku bisa menjadi seekor burung selama beberapa menit, aku bisa membawa mereka ke tempat yang aman."
   Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, "Sekarang aku mengerti," bisiknya dengan terisak. "Sekarang aku mengerti mengapa ENGKAU mau menjadi manusia."

Sunday, December 30, 2012

Salib Kehidupan


Seorang muda sedang mempunyai beban hidup yang berat. Hidupnya terasa gelap. Ia berlutut dan berdoa, “Ya Tuhan, hidupku terasa berat. Aku memanggul salib yang begitu berat.”

Tuhan menjawab, “Anak-Ku, jika kamu tidak kuat menanggung salibmu, taruhlah salibmu di dalam ruangan ini. Bukalah pintu ruangan lain dan ambillah salib yang kamu inginkan.”

Orang muda ini merasa mendapatkan keringanan. Dan ia melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Ia masuk ke sebuah ruangan dan melihat banyak salib ada di situ.

Ada sebuah salib yang besar pada bagian atasnya dan bagian bawahnya tak tampak. Dari kejauhan ia mengamati sebuah salib yang tipis, yang bersandar pada tembok. “Aku menyukai salib ini, Tuhan,” ia berbisik pada dirinya sendiri.

Tuhan menjawab, “ Anak-Ku, itu adalah salib yang baru saja kau panggul.”

Bila masalah-masalah hidup melingkupimu, pandanglah sekelilingmu, bagaimana orang lain juga sedang bergulat dengan kesulitan-kesulitan hidup. Kirannya kamu akan memandang dirimu jauh lebih beruntung daripada yang kamu bayangkan sebelumnya. 

Friday, December 23, 2011

Melihat Wajah Allah

Diakhir tahun 1980'an Ekuador dilanda krisis ekonomi berat. Lalu, dalam waktu bersamaan, terserang epidemi wabah kolera massal. Seakan masih kurang, bencana alam silih-berganti memporakporandakan desa-desa maupun kota-kota di negara itu. PBB dan organisasi dunia lainnya merespon dengan membawakan persediaan jagung, produk-produk kedelai, susu, buah-buahan, tortilla (makanan dari tepung jagung), beras dan kacang-kacangan.


Seorang fotografer berita terkenal mengambil posisi di suatu jalan utama dimana orang-orang sakit, yang kelaparan, yang sudah letih lesu saling berbaris menunggu pembagian makanan. Ia sudah terlatih untuk mengawasi hal-hal kecil dan situasi umumnya yang sedang berkembang.

Ia tertarik pada seorang gadis -- kurus kering dan dekil, berusia sekitar 9 atau 10 tahun. Diamatinya, selagi gadis ini dengan sabar mengantri, matanya selalu tertuju pada tiga anak lain lagi yang saling erat berjongkok di bawah sebuah pohon besar, memayungi diri dan menghindar dari terik panas matahari. Dua bocah laki-laki, berumur 5 dan 7, saling menggandeng seorang gadis kecil sekitar 3 tahun.

 

Karena perhatiannya teralihkan, gadis itu tidak melihat bahwa pekerja-pekerja sosial itu sedang kehabisan persediaan makanan. Jantung sang fotografer itu berdetak keras. Kameranya juga sudah siap.


Setelah berjam-jam terjemur di bawah matahari, gadis kecil itu akhirnya mendapatkan giliran dilayani. Yang ia terima cuma sebuah pisang. Tetapi, reaksinya begitu memukau dan seakan melumpuhkan sang fotografer tersebut.

 

Pertama, wajahnya menyala, bersinar dalam sebuah senyum begitu manis. Ia menerima pisang itu dan membungkuk pada pekerja sosialnya. Lalu cepat-cepat ia berlari menuju ketiga anak kecil di bawah pohon tadi. Dengan amat hati-hati ia mengupas kulitnya, membaginya rata dalam 3 potong dan dengan hati-hati sekali, ditaruhnya masing-masing ke dalam tangan tiap anak. Bersama-sama mereka menundukkan kepala dan berdoa mengucap syukur. Lalu, perlahan-lahan mereka memakan potongan pisang, benar-benar menikmati setiap gigitannya, sedangkan gadis tertua itu mengisap kulit pisangnya.


Fotografer itu terdiam seribu bahasa. Tak tertahan lagi, ia mulai menangis tersedu-sedu, lupa sama sekali akan kameranya dan akan tujuan utama ia hadir disana. Belakangan, setelah sadar kembali, ia bertutur bahwa ketika sedang mengamati gadis itu, ia melihat wajah Allah bersinar. Ia sempat mengintip secuil kecil Kerajaan Allah dalam wajah dan tindakan-tindakan seorang gadis miskin jalanan yang begitu kaya dalam kemurahan hati, cinta kasih dan  kepedulian. 




Sunday, December 18, 2011

Kisah Cangkir yang Cantik

 

Sepasang kakek-nenek memasuki sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah ulang tahun untuk cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju pada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir yang cantik itu," kata si nenek pada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek. 

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir tersebut berbicara, "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada  seorang pengrajin dengan tangan  kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing.

Stop ! Stop ! Aku berteriak. Tetapi orang itu berkata, 'Belum !' Lalu ia mulai menyodok dan meninjuku  berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini  masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. “Panas  ! Panas !” Teriakku dengan keras. “Stop ! Cukup !” teriakku lagi.Tapi orang ini berkata, “Belum !”

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. “Stop ! Stop !”  Aku berteriak. Orang itu  berkata, 'Belum !' Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan  aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya. “Tolong ! Hentikan penyiksaan ini !” Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya.Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia  terus membakarku.

Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin  seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat  kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala  kulihat diriku.

Renungan :

Seperti inilah Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita, keadaan tidak selalu menyenangkan. Seringkali terasa sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi 'cantik' dan memancarkan Kemuliaan-Nya.

Bila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Tuhan sedang membentuk anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai. Anda  akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk anda.


Tuesday, September 20, 2011

Kami Baik-baik Saja

Jhon ikut merasa sedih untuk putranya, Brian, dan tim basket kelas lima-nya. Di pertandingan kompetisi bola basket sekolah pada musim gugur yang lalu tim basket mereka mempunyai rekor yang mematahkan semangat, 0-6, dan selisih angkanya juga kurang baik. Mereka biasanya kalah dengan selisih 30 atau 40 poin. 

Tidak perlu suatu keahlian khusus untuk melihat masalahnya. Dibanding dengan tim lain pada kompetisi sekolah itu, tim basket Brian terdiri dari anak-anak berbadan lebih kecil, bergerak lebih lambat, dan kurang pengalaman.  Jhon kuatir putranya akan menjadi patah semangat, tapi sepertinya Brian dan teman-teman setimnya menyukai setiap latihan dan tetap bersenang-senang setelah setiap pertandingan. 

Setelah usai pertandingan yang, lagi-lagi, dimenangkan oleh tim lawan, Jhon bertanya pada putranya, "Brian, mengapa kalian terlihat selalu bergembira, padahal tim kalian selalu kalah?" 

Jawaban Brian membuat Jhon tercekat, "Oh, Papa, kami memang selalu kalah dalam setiap pertandingan, tetapi kami berhasil mencapai target kami, yaitu mendapatkan 12 poin dan menjaga agar selisih angka kami dari tim lawan dbawah 50 poin. Kami sadar kok kalau tim kami semuanya anak-anak kelas lima dan tim lain kebanyakan kelas enam. Jadi, menurutku, kami baik-baik saja!"

Siapa bilang kita harus hidup dengan sistem pengukuran orang lain? Tak bisakah kita menetapkan standar kita sendiri? Tak bisakah kita memutuskan untuk melihat diri kita sebagai sosok yang sukses, bukan yang gagal? 

Kita bisa membunuh kemampuan untuk belajar dan berkembang jika selalu membandingkan diri kita dengan orang lain dan merasa bahwa kita tidak pernah cukup baik. Yang membuat proses pembelajaran dan perkembangan tumbuh subur adalah keyakinan bahwa kita tidak harus selalu menjadi yang terbaik, tetapi cukup kita berusaha sebaik-baiknya. Brian dan tim basketnya telah mengajarkan hal itu.