Welcome to my sanctuary ... my safe haven. I like to collect any articles, quotes, notes, whatever that I find useful, interesting or inspirational (I did not own them unless stated otherwise). I also wrote some notes, though :D
Wednesday, December 21, 2011
Sunday, December 18, 2011
Kisah Cangkir yang Cantik
Sepasang kakek-nenek memasuki sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah ulang tahun untuk cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju pada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir yang cantik itu," kata si nenek pada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.
Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir tersebut berbicara, "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing.
Stop ! Stop ! Aku berteriak. Tetapi orang itu berkata, 'Belum !' Lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. “Panas ! Panas !” Teriakku dengan keras. “Stop ! Cukup !” teriakku lagi.Tapi orang ini berkata, “Belum !”
Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. “Stop ! Stop !” Aku berteriak. Orang itu berkata, 'Belum !' Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya. “Tolong ! Hentikan penyiksaan ini !” Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya.Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku.
Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
Renungan :
Seperti inilah Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita, keadaan tidak selalu menyenangkan. Seringkali terasa sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi 'cantik' dan memancarkan Kemuliaan-Nya.
Bila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Tuhan sedang membentuk anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai. Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk anda.
Tuesday, September 20, 2011
Kami Baik-baik Saja
Jhon ikut merasa sedih untuk putranya, Brian, dan tim basket kelas lima-nya. Di pertandingan kompetisi bola basket sekolah pada musim gugur yang lalu tim basket mereka mempunyai rekor yang mematahkan semangat, 0-6, dan selisih angkanya juga kurang baik. Mereka biasanya kalah dengan selisih 30 atau 40 poin.
Tidak perlu suatu keahlian khusus untuk melihat masalahnya. Dibanding dengan tim lain pada kompetisi sekolah itu, tim basket Brian terdiri dari anak-anak berbadan lebih kecil, bergerak lebih lambat, dan kurang pengalaman. Jhon kuatir putranya akan menjadi patah semangat, tapi sepertinya Brian dan teman-teman setimnya menyukai setiap latihan dan tetap bersenang-senang setelah setiap pertandingan.
Setelah usai pertandingan yang, lagi-lagi, dimenangkan oleh tim lawan, Jhon bertanya pada putranya, "Brian, mengapa kalian terlihat selalu bergembira, padahal tim kalian selalu kalah?"
Jawaban Brian membuat Jhon tercekat, "Oh, Papa, kami memang selalu kalah dalam setiap pertandingan, tetapi kami berhasil mencapai target kami, yaitu mendapatkan 12 poin dan menjaga agar selisih angka kami dari tim lawan dbawah 50 poin. Kami sadar kok kalau tim kami semuanya anak-anak kelas lima dan tim lain kebanyakan kelas enam. Jadi, menurutku, kami baik-baik saja!"
Siapa bilang kita harus hidup dengan sistem pengukuran orang lain? Tak bisakah kita menetapkan standar kita sendiri? Tak bisakah kita memutuskan untuk melihat diri kita sebagai sosok yang sukses, bukan yang gagal?
Kita bisa membunuh kemampuan untuk belajar dan berkembang jika selalu membandingkan diri kita dengan orang lain dan merasa bahwa kita tidak pernah cukup baik. Yang membuat proses pembelajaran dan perkembangan tumbuh subur adalah keyakinan bahwa kita tidak harus selalu menjadi yang terbaik, tetapi cukup kita berusaha sebaik-baiknya. Brian dan tim basketnya telah mengajarkan hal itu.
Little Girl's Compassion
Hari minggu ini sangat mengesalkan. Aku menggerutu karena seharian ini aku merasa banyak orang yang tidak bersahabat denganku dan banyak hal yang telah kurencanakan tidak berjalan dengan baik. Kedua putriku, Emmy dan Alice sedang menarik-narik lengan kemejaku ketika kami berjalan menuju toko mainan. Mereka merengek minta 25 sen untuk menaiki kuda mekanis di depan toko. Aku menyerah dan memberi mereka masing-masing 25 sen.
Kuda mekanis itu merupakan mainan yang populer bagi anak-anak, dan karena banyak yang ingin menaikinya, mereka harus sabar mengantre. Aku melihat Alice, yang saat itu berusia 5 tahun, harus menunggu 10 menit sementara saudarinya, Emmy, dan anak-anak yang lain menaiki kuda makanis itu. Akhirnya tibalah giliran Alice, tetapi bukannya menaiki kuda itu, ia malah menghampiri seorang anak laki-laki kecil yang sedang berdiri menonton permainan itu. Dengan kepekaannya yang polos ia mengetahui bahwa anak laki-laki itu tidak mempunyai uang. Maka, ia memberikan koinnya kepada anak kepada anak itu dan menyuruhnya naik.
Aku tahu bahwa Alice sangat ingin sekali meniki kuda mekanis itu dan ia sudah menunggu dengan sabar untuk menaiki kudatungganyan yang sangat berarti baginya itu. Rasa kasih sayang dan ketulusan yang ditunjukkanya telah mengubah seluruh hatiku. "Bagaimana aku bisa begitu egois dan penggerutu," pikirku, "jika seorang anak kecil baru saja menunjukkan kepadaku bagaimana dunia itu seharusnya?'
Alice tidak pernah menceritakan hal itu kepada orang lain dan ia juga tidak pernah tahu bahwa aku melihatnya. Dia tidak pernah tahu betapa berharganya anugerah yang telah diberikannya kepadaku saat aku melihatnya berdiri dan tersenyum sayang ketika anak laki-laki itu menaiki kudanya.
Monday, August 15, 2011
Wortel, Telur dan Kopi
Seorang anak mengeluh kepada ayahnya mengenai kehidupannya yang terasa berat. Setiap hari penuh dengan tantangan. Ia tidak tahu lagi bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Sepertinya, setiap satu masalah selesai selalu muncul masalah baru. Ia merasa sudah lelah berjuang.
Ayahnya, yang adalah seorang koki, mengajaknya ke dapur. Di sana, sang ayah mengambil 3 buah panci ukuran sedang, mengisinya dengan air dan menaruhnya di atas kompor yang menyala. Setelah beberapa menit menunggu, air di panci-panci tersebut mendidih. Sang ayah menaruh sebutir telur di panci pertama, sebatang wortel di panci kedua dan satu sendok bubuk kopi di panci ketiga.
Sang anak memperhatikan ayahnya bekerja dengan tidak sabar. Dalam hati dia bertanya-tanya apa maksud sang ayah dengan ketiga panci dan bahan-bahan yang direbusnya. Namun ayahnya hanya memberi isyarat agar dia tetap diam dan memperhatikan.
Setelah beberapa menit, ayahnya mematikan api, menaruh telur dan wortel di atas sebuah piring dan kopi di dalam cangkir. Lalu sambil tersenyum, dia berkata kepada, "Apa yang kau lihat, nak?"
"Wortel, telur dan kopi," si anak menjawab dengan tidak sabar.
Ayahnya memberi isyarat agar sang anak menyentuh wortel itu. Wortel itu terasa lunak di tangannya. Kemudian ayahnya menyodorkan telur, yang setelah dikupas didapatinya telur yang sudah mengeras. Terakhir, ayahnya menyodorkan secangkir kopi untuk dicicipi. Sang anak tersenyum mencium aroma kopi yang harum dan rasanya yang khas.
Sang anak memandang ayahnya, bertanya, "Apa maksud dari semua ini, ayah?"
Ayahnya menjelaskan bahwa ketiga bahan yang berbeda itu telah mengalami kesulitan yang sama, direbus dalam air mendidih. Akan tetapi masing-masing memberikan reaksi yang berbeda. Wortel menjadi lunak setelah beberapa menit direbus, sedangkan telur menjadi keras. Sementara bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah direbus dalam air mendidih, bubuk kopi mengubah air tersebut menjadi minuman kopi yang nikmat.
Sang ayah lalu bertanya pada anaknya, "Termasuk yang manakah kamu diantara ketiga bahan-bahan ini? Ketika kesulitan datang, bagaimanakan kamu akan menghadapinya?"
Apakah kamu seperti wortel yang sebelumnya keras, tetapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan menjadi kehilangan kekuatanmu dan menjadi lunak?
Apakah kamu seperti telur yang sebelumnya memiliki hati yang lembut, tetapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan menjadi keras dan kaku, walaupun dari luar masih terlihat sama?
Atau apakah kamu seperti bubuk kopi, yang bertahan dalam air yang panas, sesuatu yang membawa kesulitan dan tantangan, dan mengubahnya menjadi air kopi yang nikmat? Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi menjadi semakin nikmat dan mengeluarkan aroma harum yang menyenangkan. Kalau kamu seperti bubuk kopi, ketika kesulitan hidup datang padamu, kamu tidak hanya mampu bertahan bahkan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmua juga semakin baik.
Saturday, August 6, 2011
Berani mencoba
Alkisah, seorang pembuat jam berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?"
"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana saya sanggup?"
"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?"
Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.
"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?"
"Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam yang gelisah. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"
"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu Dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)












